
PUASA MELATIH KEMERDEKAAN SEJATI
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Alhamdulillah, washalatu was-salamu ‘alaa rasulillah, Muhammadin ibni Abdillah. Wa ba’du
Bersyukur kita dapat berjumpa dengan bulan mulia, ramadhan yang penuh berkah. Kita berkesempatan untuk melatih mengendalikan diri selama sebulan penuh dengan cara berpuasa. Training kolosal yang diikuti lebih semilyar kaum muslimin seluruh dunia ini meneguhkan tentang kebenaran ajaran Islam.
Arti puasa adalah ”menahan diri” dalam arti yang seluas-luasnya. Menahan diri dari dorongan nafsu duniawi yang berlebih-lebihan dan tak terkendali atau nafsu batiniah yang tak seimbang. Dengan puasa, dorongan nafsu yang menggebu itu dapat dikendalikan dan diletakkan pada proporsi yang benar dan seimbang.
Dorongan nasfu fisik dan batin secara berlebihan akan menghasilkan sebuah rantai belenggu yang bisa menutup asset yang paling berharga yang menjadi milik manusia, yaitu God Spot. God Spot adalah kejernihan hati dan pikiran manusia yang merupakan sumber suara hati yang senantiasa memberi bimbingan dan informasi penting untuk kemajuan dan kesuksesan.
God Spot yang tertutup oleh nafsu fisik dan batin yang tak seimbang akan mengakibatkan sesorang menjadi ”buta emosi”. Menjadikan seseorang kurang peka dan tidak mampu membaca kondisi batiniahnya sendiri dan tidak cepat tanggap terhadap lingkungannya. Mereka menjadi kurang cerdas, tidak mampu membaca bahaya yang ada di depannya, tidak sadar di mana mereka berdiri, dan tak tahu siapa dirinya. Sederhanany, mereka menjadi makhluq asing bagi dirinya sendiri dan bagi lingkungannya.
Ketika radar hati telah tertutup oleh nafsu, maka manusia menjadi tuli dan buta sehingga mereka tak lagi mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, karena kebenaran bagi mereka adalah apabila mereka mengikuti nafsu pribadi. Bukan telinga mereka yang tuli, bukan mata mereka yang buta, tapi mata hati merekalah yang tertutup oleh hawa nafsunya.
Nafsu cenderung mengambil jalan pintas untuk mencapai sebuah keberhasilan. Landasan yang digunakan sangat rapuh dan membahayakan, yang justru akan menghantam balik dirinya sendiri. Keberhasilan yang dicapai melalui jalan pintas itu mengganggu keseimbangan tatanan alam dan pranata sosial. Bukan keberhasilan yang dituju, tapi justru kerusakan dan kehancuran.
Orang yang telah tertutup mata hatinya tak mampu lagi melihat arah kemana mereka sedang menuju. Sekalipun mereka tahu bahwa jalan yang ditempuh mengarah pada kehancuran dan kebinasaan, tapi belenggu nafsu telah menutup mata batinnya, sehingga mereka tetap melaju. Tinggal waktu yang akan membuktikannya, sebab alam senantiasa akan kembali pada keseimbangan-Nya.
Akan tetapi, ketika manusia telah terbebas dari belenggu hawa nafsu, maka hatinya kembali menjadi terang dan bercahaya. Suara hatinya kembali dapat bekerja untuk memberikan informasi dan bimbingan penting untuk meraih keberhasilan dan kemajuan sesuai dengan tuntunan hati nurani.
Secara umum, tujuan puasa adalah mencapai kemerdekaan sejati, merdeka dan bebas dari belenggu hawa nafsu yang mengungkung God Spot atau kejernihan hati. Puasa adalah pelatihan rutin dan sistematis untuk menjaga fitrah manusia, sehingga menghasilkan akhlaqul karimah.
Demikian, semoga kita sukses menjalaninya.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Tidak ada komentar:
Posting Komentar