From: A. Wahid Sahal
Salah satu kegemaranku di waktu anak-anak adalah memelihara jangkrik. Selain bunyinya yang dipercaya dapat mengusir tikus-tikus di rumah, binatang ini juga bisa diadu dan juga laku dijual di pasar. Lumayan duitnya bisa buat menambah uang saku ke sekolah. Dari mana aku dapat jangkrik-jangkrik itu? Tidak sulit, karena tidak perlu membeli tapi cukup mencari dan menangkap di ladang-ladang yang tidak jauh dari rumahku.
Suatu malam, usai mengaji di surau, aku dan kawan-kawan pergi ke sebuah kampung untuk menangkap jangkrik dengan membawa obor sebagai penerang perjalanan kami. Seperti biasanya jangkrik-jangkrik yang agak besar mulai berbunyi bila hari menjelang larut malam. Karena sesampainya di kampong itu hari belum begitu malam, pada saat itu aku mampir di sebuah ladang yang di sana seorang nenek tengah bekerja untuk mempersiapkan musim tanam yang akan segera datang. Umumnya orang di kampong itu menanam palawija di ladang-ladang mereka seperti: jagung, singkong, kacang tanah atu kacang panjang.
Di bawah siraman cahaya rembulan tanggal belasan bulan hijriyah pada malam itu, aku hampiri si nenek itu karena aku memang mengenalnya. Dia sedang mengerjakan sendiri ladang miliknya yang cukup luas itu dan tidak memakai bajak atau pun cangkul seperti kebanyakan petani di kampong itu melakukannya tetapi hanya dengan sebuah linggis. Sambil terus mengayunkan linggisnya untuk membelah-belah tanah yang cukup keras di ladang itu, aku bertanya kepadanya: ‘Mbah, kenapa mbah kerjakan sendiri ladang ini dan pakai linggis lagi, kataku sekenanya.” Nenek itu menjawab: “Nak, kamu khan tau suamiku sudah tidak ada, dan anak laki-laki yang menjadi tumpuan harapanku sekarang sedang sakit jiwa. Kalau aku menyuruh orang lain mengerjakannya dari mana aku dapat uang untuk membayarnya? Dengan spontan aku berkata: “Kalau gitu, kapan mbah selesainya ladang seluas ini? Nenek itu menjawab dengan tanpa beban: “Aku akan kerjakan ladang ini setiap malam karena hanya ini harapan hidupku. Masak ladang ini tidak akan selesai aku kerjakan sampai jatah umurku habis nak.” Jawaban nenek yang terakhir inilah yang membuat aku tercenung pada saat itu, dan sampai saat ini kalimat itu selalu aku ingat ketika rasa malas dan putus asa menyelinap dalam jiwaku di saat aku harus menyelesaikan suatu pekerjaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar